Silsilah Raja-Raja Mekongga: Dari Legenda Larumbalangi hingga Era Modern
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLAKA | BAWOSULTURA.COM — Di balik megahnya Istana Komali dan sakralnya makam Sangia NiBandera, tersimpan sebuah garis keturunan panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Kerajaan Mekongga, yang berdiri sejak abad ke-12, telah dipimpin oleh puluhan raja bergelar Mokole dan Bokeo pemimpin yang tidak hanya mengatur pemerintahan, tetapi juga menjadi penjaga keseimbangan spiritual dan budaya masyarakat Tolaki di Kerajaan Mekongga hingga saat ini .
Dari kisah mitologis pembunuhan burung elang raksasa hingga raja-raja yang beradaptasi dengan sistem pemerintahan modern, berikut adalah silsilah Raja-Raja Kerajaan Mekongga yang berhasil dihimpun BAWO SULTRA dari berbagai sumber sejarah dan catatan adat dan narasumber.
Babak Pertama: Era Legendaris dan Mitologis
Sebelum Kerajaan Mekongga terbentuk, wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Kolaka memiliki nama lama Wonua Sorume yang berarti “Negeri Anggrek”. Nama ini diambil dari banyaknya anggrek kuning keemasan yang tumbuh subur di kawasan tersebut .
Wilayah ini awalnya dihuni oleh penduduk asli dari suku Moronene (disebut juga ToKia atau ToAere). Kemudian datanglah Suku Tolaki dari Mahalona sekitar danau Towiti yang kemudian membentuk tujuh pemukiman yang disebut O’tobu, meliputi Tikonu, Puu’ehu, Sabilambo, Po’ondui, Lalombaa, Ulunggolaka, dan Mangolo hingga terbentuk wilayah otonomi kerajaan Mekongga secara keseluruhan, mulai dari Tolala di Utara hingga Toari di Selatan, mulai dari Tira Wuta di Timur hingga Teluk Mekongga di Barat.
Larumbalangi: Pemersatu Tujuh Pemukiman
Sangia Larumbalangi adalah tokoh sentral dalam sejarah berdirinya Kerajaan Mekongga. Menurut legenda yang berkembang di masyarakat, ia adalah seorang kesatria sakti mandraguna yang datang bersama saudaranya Wekolia (yang kemudian mendirikan Kerajaan Konawe).
Kisah paling terkenal tentang Larumbalangi adalah keberhasilannya membunuh Kongga Owose, seekor burung elang raksasa yang meneror penduduk Wonua Sorume. Terdapat beberapa versi dalam legenda ini, burung raksasa ini memangsa ternak dan bahkan manusia, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Dengan kecerdikan dan keberaniannya, Larumbalangi memberikan strategi kepada penduduk untuk memasang bambu runcing beracun di Padang Bende. Seorang pemberani bernama Tasahea dari negeri Loeya bertindak sebagai umpan. Kongga Owose berhasil dilumpuhkan dan jatuh di sebuah gunung yang kemudian dinamakan Gunung Mekongga.
Atas jasanya menyelamatkan negeri Sorume, para tetua adat (To’onomotuo) dari tujuh pemukiman sepakat mengangkat Larumbalangi sebagai pemimpin tertinggi. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mekongga, dengan Larumbalangi sebagai Raja pertama.
Nama “Mekongga” sendiri berasal dari kata Kongga (burung elang). Dalam bahasa Tolaki, “Mekongga” berarti “terdapat banyak burung elang” atau “berburu burung elang”.
Babak Kedua: Dari Mitos ke Sejarah (Abad ke-14 hingga 17)
Setelah era Larumbalangi, kepemimpinan Kerajaan Mekongga dilanjutkan oleh keturunannya. Menurut legenda, pergantian raja pada masa awal terjadi secara mistis sang raja menghilang dan digantikan oleh sosok pemuda yang mengaku sebagai putranya .
Berikut adalah raja-raja pada periode awal Kerajaan Mekongga berdasarkan berbagai sumber:
Nama Lombo Lombo sendiri konon berasal dari kondisi fisiknya hingga usia empat tahun, ubun-ubunnya belum keras (lombo lombo berarti ‘ubun-ubun’ dalam bahasa Tolaki). Setelah dilakukan upacara adat Sinosambakai, ubun-ubunnya pulih sempurna, menjadikan upacara tersebut tradisi khusus bagi anak pertama .
Teporambe: Era Sebelum Islam
Teporambe (bergelar Sangia Nilulo) menggantikan Lombo Lombo. Pada masa pemerintahannya, agama Islam mulai masuk melalui hubungan dengan Kerajaan Luwu. Meskipun demikian, Teporambe sendiri belum memeluk Islam. Ia wafat dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Mekongga.
Babak Ketiga: Era Islam dan Kejayaan (Akhir Abad ke-17 hingga 19)
Ladumaa / Sangia NiBandera: Raja Islam Pertama
Ladumaa, yang lebih dikenal dengan gelar Sangia NiBandera atau Bokeo Ladumaa, adalah putra Teporambe dan merupakan Raja Mekongga pertama yang memeluk agama Islam sekitar tahun 1699 .
Masa pemerintahannya (sekitar 1699-1748) dianggap sebagai zaman keemasan Kerajaan Mekongga. Di bawah kepemimpinannya, hubungan dengan Kerajaan Konawe dan Luwu semakin erat, dan pengaruh Islam mulai menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat.
Salah satu peninggalan terpenting dari masa pemerintahannya adalah bendera pusaka berwarna merah putih dengan panjang 193 cm dan lebar 63 cm. Bendera ini bertuliskan syahadat Arab Gundul pada bagian putihnya, disertai gambar cicak dan benda pusaka lainnya. Berdasarkan sejarah, bendera tersebut diberikan oleh Datu Alimuddin dari Luwu sebagai bentuk penghargaan atas bantuan Sangia NiBandera dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa .
Makam Sangia NiBandera di Kecamatan Wundulako hingga kini menjadi lokasi spiritual dan wisata sejarah yang banyak dikunjungi .
Raja-Raja Setelah Sangia NiBandera
Berikut adalah silsilah raja-raja setelah era Sangia NiBandera berdasarkan berbagai sumber :
Babak Keempat: Era Modern dan Adaptasi (Abad ke-20 hingga Kini)
Masa Kolonial Belanda
Pada tahun 1905-1906, Pemerintah Hindia Belanda secara sepihak memasukkan Kerajaan Mekongga ke dalam wilayah Swapraja Luwu yang kemudian menjadi pemicu perlawanan masyarakat Adat Tolaki-Mekongga terhadap Pemerintah Hindia Belanda yang meletus pada 19 November 1945. Wilayah ini dibagi menjadi tiga distrik: Distrik Kolaka, Distrik Solewatu, dan Distrik Patampanua (Pato Wunua). Belanda tidak mengakui Mekongga sebagai kerajaan yang terpisah dari Luwu, sehingga segala perjanjian antara Belanda dan Luwu juga mencakup Mekongga.
Pada masa ini, pemilihan dan pengangkatan Bokeo tidak lagi berdasarkan mekanisme adat, tetapi ditentukan oleh pemerintah kolonial. Ketika Bokeo Latambaga mangkat pada 1932, yang diangkat sebagai penggantinya adalah Indumo, tanpa meminta persetujuan dewan adat Mekongga. Seharusnya yang lebih berhak adalah Kapita Konggoasa, putra Raja/Bokeo Latambaga.
Pasca Kemerdekaan hingga Reformasi
Setelah kemerdekaan Indonesia, sistem kerajaan bertransformasi menjadi lembaga adat yang tetap dihormati tetapi tidak lagi memiliki kekuasaan politik formal. Gelar Bokeo tetap dipertahankan sebagai simbol kepemimpinan adat dan budaya.
Bokeo XVIII, Nur Saenab Lowa (seorang raja perempuan), wafat pada tahun 2014 .
Pada tahun 2015, H. Khaerun Dahlan dinobatkan sebagai Bokeo XIX atau raja ke-19 Kerajaan Mekongga .
Tantangan di Era Modern
Di tengah arus modernisasi dan godaan sumber daya alam (terutama sektor pertambangan di wilayah Kolaka), muncul wacana untuk mereformasi sistem penetapan Raja Mekongga dengan mekanisme pemilihan terbuka di antara keturunan keluarga kerajaan.
Namun, para tokoh adat mengingatkan bahwa Bokeo bukanlah jabatan politik yang bisa diperebutkan, melainkan amanah suci yang diturunkan melalui garis keturunan yang sah dan diakui oleh para tetua adat. Proses penetapan Mokole selalu melibatkan ritual, simbolisme, dan pertimbangan spiritual yang tidak dapat diukur dengan standar politik modern .
“Raja bukanlah jabatan politik yang bisa diperebutkan dan penetapannya tidak boleh di intervensi oleh birokrasi pemerintah, tetapi harus di jalankan sesuai amanah suci para leluhur yang diturunkan melalui garis keturunan yang sah dan diakui oleh para tetua adat.” kata Olank Zakaria, trah Puu Sara Wasasi Wesabenggali.
Kontroversi dan Perbedaan Silsilah
Penting untuk dicatat bahwa terdapat perbedaan versi silsilah Kerajaan Mekongga di berbagai sumber. Sejarawan dan budayawan setempat memiliki catatan yang tidak selalu sinkron, baik mengenai jumlah raja, urutan kepemimpinan, maupun tahun pemerintahan.
Sebagai contoh, silsilah yang diberikan oleh Abbas Pullah (seorang informan dalam penelitian buku Ensiklopedi Kerajaan-Kerajaan Nusantara) menyebutkan urutan raja-raja Mekongga sebagai berikut: Larumpalangi, Ranggapo’u, Sikiri, Lapotende, Siti Nauso, dan Muhammad Kondi Pullah selaku raja terakhir Mekongga.
Perbedaan ini wajar terjadi mengingat sejarah Kerajaan Mekongga banyak dilestarikan melalui tradisi lisan (oral tradition), bukan catatan tertulis yang sistematis. Selain itu, pergolakan politik, perang, dan intervensi kolonial turut mempengaruhi dokumentasi sejarah kerajaan ini.
Warisan yang Terus Hidup
Terlepas dari perbedaan catatan sejarah, yang jelas adalah bahwa Kerajaan Mekongga dan garis keturunan para Bokeo tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Kolaka dan Suku Tolaki-Mekongga secara luas.
Dari Larumbalangi yang legendaris, Sangia NiBandera yang membawa Islam, hingga Bokeo Khaerun Dahlan yang memimpin di era modern mereka semua adalah mata rantai yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Istana Komali masih berdiri megah, makam-makam raja masih diziarahi, dan nilai-nilai adat masih dijunjung tinggi. Kerajaan Mekongga mungkin tidak lagi memiliki kekuasaan politik seperti dulu, tetapi kewibawaan budayanya tetap hidup di setiap denyut nadi masyarakat Tolaki-Mekongga. (Kontributor: Olank Zakaria)
Disclaimer: Mengingat sebagian besar sejarah Kerajaan Mekongga dilestarikan melalui tradisi lisan (oral tradition) yang diwariskan turun-temurun, terdapat perbedaan versi mengenai urutan raja, tahun pemerintahan, dan jumlah raja yang pernah memerintah antar sumber. Silsilah yang disajikan dalam artikel ini merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan mencantumkan referensi untuk setiap klaim. Pembaca yang memiliki informasi lebih mendalam atau koreksi termasuk tokoh adat, budayawan, atau sejarawan sangat kami harapkan kontribusinya. Untuk penelitian akademik lebih lanjut, silakan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka atau lembaga terkait lainnya.

Saat ini belum ada komentar