Mengupas Ritual Kematian Suku Tolaki-Mekongga dari Zaman Pra-Islam Hingga Kini
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Kematian adalah satu kepastian yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Bagi Suku Tolaki-Mekongga di Sulawesi Tenggara, kematian bukan sekadar peristiwa hilangnya nyawa, tetapi momentum sakral yang sarat dengan ritual, filosofi, dan penghormatan kepada leluhur.
Dari zaman pra-Islam yang menggunakan peti mati kuno bernama Soronga (dialek Konawe) atau Duni (dialek Mekongga) yang diletakkan di dalam gua-gua tinggi, hingga era modern yang telah mengadopsi tata cara pemakaman Islam jejak ritual kematian masyarakat Tolaki-Mekongga menyimpan cerita panjang tentang bagaimana manusia menghormati yang telah berpulang.
Soronga dan Duni: Peti Mati Kuno Penanda Stratifikasi Sosial
Sebelum agama Islam masuk dan berkembang di Sulawesi Tenggara, masyarakat Tolaki-Mekongga memiliki tradisi pemakaman yang sangat berbeda dengan tata cara saat ini. Jenazah tidak dimakamkan di dalam tanah, melainkan dimasukkan ke dalam peti mati kayu yang disebut Soronga (dalam dialek Konawe) atau Duni (dalam dialek Mekongga).
Bentuk dan Ukiran yang Berbicara
Peti mati kuno ini dibuat dari batang kayu yang dipahat, terdiri dari wadah dan tutup. Soronga yang ditemukan di Goa Tanggalasi, Desa Lelewawo, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Kolaka Utara, memiliki dimensi: tinggi 75 cm, panjang 450 cm, dan diameter 51 cm, berbentuk empat persegi.
Yang menarik, pada bagian badan soronga terdapat ragam hias yang sarat makna bentuk tumpal, spiral, belah ketupat, dan geometris. Bagian penutup masing-masing diakhiri dengan bentuk makara, yang berfungsi sebagai kelengkapan upacara khusus bagi kalangan atas.
Semakin tinggi strata sosial yang meninggal misal seorang Mokole (raja) atau kerabat Anakia (bangsawan) semakin antik dan bagus motif soronga atau duni yang digunakan.
Tempat Pemakaman: Gua dan Ceruk Tebing
Tidak hanya peti matinya yang unik, tempat penyimpanan soronga juga ditentukan oleh status sosial almarhum.
| Stratifikasi Sosial | Lokasi Pemakaman |
|---|---|
| Bangsawan (Mokole/Anakia) | Goa atau ceruk batu yang lebih tinggi |
| Rakyat Biasa | Goa atau ceruk yang lebih rendah |
Hal ini terbukti dengan ditemukannya berbagai situs goa (kumapo) di Kabupaten Kolaka Utara yang berisi puluhan bahkan ratusan tengkorak manusia. Salah satunya adalah Situs Goa Tengkorak Lawolatu di Kecamatan Ngapa, yang kini terdaftar sebagai situs cagar budaya.
Pemilihan gua atau ceruk tebing sebagai tempat pemakaman memiliki alasan kuat: menjaga agar jenazah tidak mudah dijangkau dan mengganggu aktivitas masyarakat yang hidup.
Ritual Penguburan Kedua Uniknya Tradisi Tolaki-Mekongga
Proses pemakaman suku Tolaki-Mekongga di masa pra-Islam tidak sesederhana “meninggal langsung dimasukkan peti”. Ada ritual unik yang disebut “penguburan kedua” atau secondary burial.
Berdasarkan penelitian arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar, Asmunandar, prosesinya sebagai berikut:
Tahap Pertama: Pengeringan Jenazah
Ketika seseorang meninggal, jenazah tidak langsung dimakamkan. Terlebih dahulu diadakan upacara adat sambil mengeringkan jenazah. Pada proses pengeringan ini, air dari jenazah ditampung dalam guci atau keramik yang ikut disiapkan dalam upacara.
Tahap Kedua: Pemasukan ke Soronga
Setelah jenazah kering dan tinggal tulang belulang, barulah tulang-tulang tersebut dimasukkan ke dalam soronga (peti mati kayu), bersamaan dengan barang-barang mewah milik almarhum guci, keramik, manik-manik, uang logam, hingga kotak sirih (lopa-lopa).
Tahap Ketiga: Penyemayaman di Goa
Soronga yang telah berisi tulang belulang dan bekal kubur kemudian dibawa ke goa atau ceruk tebing untuk disemayamkan selama-lamanya.
“Ini yang disebut sebagai kuburan kedua. Kalau di zaman sekarang kan jenazah langsung dikubur. Zaman dulu, prosesnya seperti itu,” jelas Asmunandar kepada awak media.
Bekal kubur yang diletakkan bersama jenazah seperti guci, botol, cerek, manik-manik menunjukkan bahwa masyarakat Tolaki-Mekongga pada masa itu memiliki kepercayaan akan kehidupan setelah kematian. Arwah dianggap masih tetap hidup di sisi Sang Penguasa sehingga masih membutuhkan benda-benda yang mereka miliki di dunia.
Goa Tengkorak: Bukti Peradaban Tua Abad ke-14
Salah satu penemuan paling menakjubkan yang membuktikan tradisi pemakaman kuno Tolaki-Mekongga adalah Goa Tengkorak di Kecamatan Lapai, Kabupaten Kolaka Utara.
Di dalam gua yang panjangnya mencapai 100 meter dan lebar 30 meter ini, terdapat ribuan tengkorak manusia dengan berbagai ukuran, berserakan hampir di seluruh sudut gua: di dinding, di relung-relung gua, bahkan di tanah yang dipijak.
Asmunandar, arkeolog Unhas yang melakukan penelitian permukaan di gua tersebut, mengungkapkan bahwa tengkorak-tengkorak itu diperkirakan berasal dari abad ke-14 Masehi dan merupakan milik para saudagar atau kaum bangsawan dari Suku Mekongga.
Kesimpulan ini ditarik berdasarkan:
- Temuan soronga (peti mati kayu bermotif ukiran)
- Benda-benda mewah yang menyertai (guci/keramik, manik-manik, uang logam)
- Pola penguburan yang menunjukkan adanya stratifikasi sosial
“Peti mati bermotif itu ternyata ada maknanya dan sebagai tanda derajat sosial tengkorak yang ada di dalamnya,” jelas Asmunandar.
Warga setempat yang masih merupakan keturunan asli Suku Mekongga, Hj. Muna, membenarkan hal ini. “Saya ini asli suku Mekongga dan memang dari kecil diceritakan masalah sejarah suku kami, termasuk proses upacara kalau ada orang kaya yang meninggal. Kalau sudah mau menuju penguburan kedua pakai soronga itu, barang-barang mewahnya dikasih ikut dalam peti,” ceritanya.
Sekilas Tentang Mosehe dalam Kematian
Dalam konteks upacara kematian, terdapat satu jenis Mosehe yang spesifik, yaitu Mosehe inemate’a ritual pensucian yang dilaksanakan jika seseorang yang meninggal dunia semasa hidupnya terlibat konflik atau mengucapkan sumpah buruk (pombetudari’a).
Sebelum jenazah dimakamkan, ritual ini digelar untuk “mendinginkan” sumpah tersebut agar tidak membawa petaka bagi keluarga yang ditinggalkan. Ritual ini biasanya dilakukan di dalam rumah, hanya melibatkan keluarga dekat dan pihak yang berkonflik dengan almarhum, serta dilaksanakan pada pagi hari (pukul 06.00-09.00) karena diyakini sebagai waktu yang “sejuk”.
Untuk pembahasan lebih mendalam tentang filosofi, jenis-jenis, dan kontroversi Mosehe secara keseluruhan termasuk Mosehe inemate’a dalam konteks yang lebih luas silakan merujuk pada artikel khusus Mosehe yang telah diterbitkan secara terpisah oleh BAWO SULTRA.
Praktik Modern dan Perubahan Sosial
Di era modern saat ini, prosesi pemakaman masyarakat Tolaki-Mekongga di Kolaka dan sekitarnya sudah sepenuhnya menggunakan tata cara pemakaman menurut agama Islam.
Namun, nilai-nilai dari tradisi lama terutama kebersamaan (Medulu) masih tetap dijaga.
Ketika terjadi kematian, seluruh keluarga besar, kerabat, dan masyarakat sekitar akan berkumpul untuk saling membantu dan menghibur keluarga yang berduka. Ini adalah cerminan dari falsafah Medulu yang sudah dibahas dalam artikel sebelumnya tentang perkawinan adat.
Soronga dan Duni kini hanya tinggal artefak sejarah yang dapat disaksikan di museum atau situs-situs gua yang dilindungi sebagai cagar budaya. Namun, semangat untuk menghormati leluhur tetap hidup diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita, ritual yang telah disesuaikan, dan kebanggaan akan identitas sebagai orang Tolaki-Mekongga.
Kesimpulan: Menghormati Leluhur, Merawat Tradisi
Dari Soronga dan Duni di gua-gua tinggi, ribuan tengkorak di Goa Lapai sejak abad ke-14, hingga Mosehe inemate’a yang disinggung sebagai bagian dari ritual pemakaman, upacara kematian Suku Tolaki-Mekongga adalah cerminan dari bagaimana manusia menghormati yang telah tiada.
Tradisi ini mengajarkan bahwa:
- Kematian tidak memutus hubungan sosial — konflik dan sumpah harus diselesaikan, bahkan setelah seseorang meninggal
- Status sosial diakui hingga liang kubur — dilihat dari kualitas peti mati dan lokasi pemakaman
- Kebersamaan adalah kunci — keluarga dan masyarakat wajib terlibat dalam setiap tahapan
- Adaptasi adalah keniscayaan — dari penguburan kedua di gua hingga pemakaman Islam modern, tradisi tetap hidup dengan cara yang berbeda
Bagi masyarakat Tolaki-Mekongga, merawat tradisi kematian bukan berarti menolak modernitas atau agama. Sebaliknya, itu adalah cara mereka untuk tetap terhubung dengan akar leluhur, sambil berjalan seiring dengan perubahan zaman. *(Oz)
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber akademis dan media, termasuk Wikipedia, jurnal penelitian, repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hasil wawancara arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar (Asmunandar), serta laporan media terpercaya. Informasi mengenai peti mati Soronga/Duni, Goa Tengkorak, dan prosesi penguburan kedua merupakan kompilasi dari sumber-sumber tersebut. Pembahasan lengkap tentang Mosehe termasuk pengertian, 5 jenis korban, 7 jenis berdasarkan tujuan, fungsi ganda rekonsiliasi dan pensucian, serta polemik dengan Islam telah dibahas secara gamblang dalam artikel terpisah berjudul “Mosehe: Ritual Pensucian dan Rekonsiliasi Tertinggi Suku Tolaki-Mekongga” pada portal BAWO SULTRA. Artikel ini hanya menyebutkan Mosehe inemate’a secara terbatas sebagai bagian dari konteks kematian. Untuk penelitian lebih lanjut tentang Mosehe, silakan merujuk pada artikel khusus tersebut.

Saat ini belum ada komentar