Mosehe: Ritual Pensucian dan Rekonsiliasi Tertinggi Suku Tolaki-Mekongga
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masyarakat Suku Tolaki-Mekongga di Sulawesi Tenggara masih memegang teguh sebuah ritual adat yang telah berlangsung sejak zaman leluhur. Namanya Mosehe sebuah upacara sakral yang berfungsi ganda: menyucikan diri dari kesalahan dan menyelesaikan konflik hingga ke akar-akarnya.
Secara etimologis, kata Mosehe merupakan gabungan dari dua kata: Mo (melakukan sesuatu) dan Sehe (suci atau menyehatkan). Jadi, Mosehe secara harfiah berarti upaya pensucian diri dari segala perbuatan yang salah atau dianggap melanggar tatanan adat.
Namun, Mosehe bukan sekadar ritual pembersihan biasa. Ia adalah mekanisme hukum adat tertinggi yang mampu “mendinginkan” sumpah buruk (pombetudari’a), mendamaikan pihak yang berselisih, bahkan menolak bala dari seluruh wilayah.
Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas segala hal tentang Mosehe dari akar sejarahnya, jenis-jenisnya berdasarkan korban dan tujuan, fungsi gandanya, hingga praktik kontemporernya di era media sosial.
Akar Sejarah Mosehe: Dari Sumpah Leluhur
Tradisi Mosehe tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar pada kepercayaan mendalam masyarakat Tolaki terhadap sumpah (pombetudari’a). Dalam pandangan mereka, sumpah yang diucapkan dalam keadaan marah atau konflik apalagi yang melibatkan nama-nama sakral tidak akan hilang begitu saja seiring waktu.
Sumpah tersebut dianggap “panas” dan dapat mendatangkan malapetaka, baik bagi yang mengucapkannya, keluarganya, bahkan seluruh negeri jika tidak “didinginkan” melalui ritual Mosehe.
Menurut penelitian akademis, peristiwa di masa lalu yang diwariskan secara turun-temurun menjadi penyebab utama mengapa upacara Mosehe diyakini perlu dilaksanakan hingga saat ini. Peristiwa-peristiwa ini berupa sumpah, sikap, dan tindakan dari orang tua atau leluhur Tolaki yang masih mempengaruhi kehidupan masyarakat Tolaki hingga kini.
Ritual Mosehe Wonua sendiri bermula dari aturan Raja yang berkuasa di Kerajaan Mekongga terdahulu dan masih dilaksanakan oleh masyarakat sekarang. Kegiatan adat ini diselenggarakan 5 tahun sekali sebagai kebiasaan masyarakat Mekongga dengan maksud memohon perlindungan atau keselamatan dari bencana alam.
Filosofi Mosehe: Hidup Seperti Air yang Fleksibel
Mosehe dalam masyarakat Tolaki memiliki makna filosofis yang mendalam. Berdasarkan penelitian Edy Basri dan Asdiana, Mosehe mengajarkan bahwa hidup haruslah seperti air yang fleksibel. Hati harus selalu sejuk dalam arti tercipta kedamaian dan saling mengasihi, saling menghargai satu sama lain, terciptanya keharmonisan dalam hidup, baik dalam hubungan mereka dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitarnya, maupun dalam hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Masyarakat Tolaki menjadikan air sebagai simbol utama dalam ritual Mosehe. Dalam pelaksanaan Mosehe Wonua di Routa, Konawe, misalnya, prosesi siraman menjadi bagian penting di mana air yang telah didoakan dipercikkan kepada warga yang hadir. Percikan air ini bukan sekadar simbol fisik, melainkan lambang penyucian batin yang diharapkan membawa kesejukan, sebagaimana sifat sejuk air, bagi jiwa setiap warga.
Tokoh adat Tolaki, Ajmain, menjelaskan bahwa konotasi Mosehe adalah tolak bala dari segala perbuatan yang telah kita lakukan.
Babak Ketiga: 5 Jenis Mosehe Berdasarkan Korban yang Digunakan
Dalam praktiknya, Mosehe diklasifikasikan berdasarkan jenis hewan atau benda yang dikorbankan. Semakin besar korban yang digunakan, semakin besar pula kadar pensucian yang diyakini dapat dicapai.
| Jenis Mosehe | Korban | Keterangan |
|---|---|---|
| Mosehe Ndiolu | Telur ayam | Tingkat paling rendah, ritual pembersihan diri dengan telur sebagai korban |
| Mosehe Manu | Ayam | Tingkat menengah, menggunakan ayam sebagai korban |
| Mosehe Ngginiku | Kerbau atau sapi | Tingkat tinggi, termasuk kerbau putih untuk Mosehe Wonua |
| Mosehe Dahu | Anjing | Sudah tidak dilaksanakan setelah masuk Islam |
| Mosehe Ndoono | Manusia | Sudah tidak dilaksanakan setelah masuk Islam |
Setelah agama Islam masuk dan diterima secara luas oleh masyarakat Sulawesi Tenggara, dua jenis Mosehe yang paling ekstrem Mosehe Dahu dan Mosehe Ndoono ditinggalkan karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan syariat Islam.
Sebagai bentuk akulturasi antara Islam dan budaya lokal, dalam ritual Mosehe kini terlihat sentuhan Islam, seperti pengucapan lafal Bismillah dan penggantian kata Sangia (dewa-dewa dalam kepercayaan lama) menjadi Ombu Allah (Tuhan Yang Maha Esa).
7 Jenis Mosehe Berdasarkan Tujuan Pelaksanaan
Selain berdasarkan korban, Mosehe juga dibedakan berdasarkan tujuan dan konteks pelaksanaannya. Para leluhur Tolaki merancang setidaknya tujuh jenis Mosehe yang masing-masing memiliki fungsi spesifik.
1. Mosehe Wonua: Pensucian Negeri
Ini adalah jenis Mosehe yang paling monumental dan melibatkan banyak orang. Mosehe Wonua dilaksanakan ketika suatu negeri atau wilayah ditimpa berbagai musibah: gagal panen, wabah penyakit, kemarau panjang, atau bencana alam.
Tujuannya adalah membersihkan negeri dari segala perbuatan tercela yang dilakukan oleh warganya dan memohon perlindungan dari Sang Pencipta agar wilayah tersebut dijauhkan dari marabahaya.
Hewan yang dikorbankan biasanya berupa seekor kerbau (atau kerbau putih sebagai simbol kesucian untuk tingkat yang lebih tinggi).
Praktik Kontemporer Mosehe Wonua:
Pada Februari 2026, ritual Mosehe Wonua untuk pertama kalinya digelar di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe sebuah wilayah yang selama ini terisolir. Ratusan warga dari berbagai desa berkumpul memadati lapangan Desa Lalomerui.
Prosesi dimulai dengan Pengangkatan Adat (penyampaian maksud ritual) yang dipimpin oleh Tetua Adat (Toono Motuo) dari Lembaga Adat Tolaki (LAT). Wakil Bupati Konawe, Syamsul Ibrahim, hadir sebagai sosok yang dituakan simbol bahwa tatanan adat dan pelaksanaan pemerintahan berjalan beriringan.
Usai mandat adat disampaikan, prosesi memasuki tahap doa bersama. Seluruh peserta tertunduk khusyuk, berpegangan tangan dan saling menyentuh pundak melangitkan pengharapan bagi keselamatan semua masyarakat di Routa.
Puncak dari Mosehe Wonua ini ditandai dengan penyembelihan hewan kurban berupa seekor kerbau. Darah yang tumpah menjadi simbolisasi penebusan dan upaya menolak bala. Melalui kurban ini, masyarakat melepaskan segala energi negatif dan menggantinya dengan rasa syukur.
Kepala Desa Lalomerui, Taksir Unggahi, menegaskan tujuan ritual yang selama ini terabaikan di tengah deru pembangunan ekonomi: “Kami sudah lama ingin mengadakan Mosehe Wonua untuk melestarikan tradisi, karena selama ini masyarakat Routa terisolir. Harapannya, Mosehe Wonua ini dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan serta menghilangkan hal negatif, sekaligus untuk mendamaikan dan menyejukkan wilayah kami”.
2. Mosehe Ndau / Ndinau: Keselamatan Ladang
Jenis Mosehe ini dilaksanakan saat ladang atau kebun baru pertama kali dibuka. Tujuannya adalah agar tanaman padi atau sayur-sayuran yang ditanam dapat berhasil baik dan terhindar dari hama serta gangguan.
3. Mosehe Umoapi / Saolowa: Penyelesaian Perselingkuhan
Ketika salah satu pihak dalam rumah tangga terbukti berselingkuh, konflik tidak cukup diselesaikan dengan perdamaian biasa. Harus ada Mosehe untuk memulihkan keseimbangan dan “menyucikan” kembali ikatan perkawinan yang telah tercoreng.
Kasus Viral: Suami Serahkan Istri ke Selingkuhan Lewat Adat Mosehe
Pada Oktober 2025, sebuah kasus perselingkuhan di Konawe menjadi viral setelah suami bernama SRH menyerahkan istrinya, NS, kepada pria selingkuhannya melalui proses adat Mosehe.
Rumah tangga yang dibangun SRH dan NS selama lima tahun kandas setelah NS kedapatan berselingkuh di indekos Kecamatan Unaaha, Konawe. Barang bukti berupa sepeda motor dibawa ke Polsek, dan NS serta pria selingkuhannya mengakui perbuatannya.
Melalui proses adat ini, hubungan suami istri SRH dan NS secara adat dinyatakan berakhir. Proses berlangsung dramatis, dengan SRH menyerahkan NS di hadapan pria selingkuhan, disaksikan aparat desa, tokoh adat, keluarga, dan masyarakat setempat.
Pria selingkuhan NS menyerahkan sejumlah syarat yang sudah disepakati, antara lain: satu ekor sapi (menggantikan kerbau), satu pis kaci, cerek, ta’awu, serta uang tunai Rp5 juta.
Kasus ini menunjukkan bahwa Mosehe masih menjadi mekanisme adat yang hidup dan diakui bahkan untuk menyelesaikan persoalan serumit perselingkuhan.
4. Mosehe Ine Pepakawia: Mosehe dalam Perkawinan Akibat Sumpah Leluhur
Jenis Mosehe ini lahir dari sumpah nenek moyang di masa lalu. Jika dua keluarga yang “terlarang” untuk bersatu karena sumpah leluhur akhirnya menikah, maka harus dilakukan Mosehe untuk “menebus” sumpah tersebut.
Sejarah paling tua tentang latar belakang Mosehe berasal dari kisah dua bersaudara dari Konawe yang bertengkar hebat dan bersumpah bahwa selamanya anak cucu mereka tidak akan bersatu. Namun perjalanan hidup mempertemukan keturunan mereka dalam ikatan perkawinan, sehingga sumpah harus “ditebus” melalui Mosehe.
5. Mosehe Ndepokono: Penyelesaian Konflik Antar Individu/Keluarga
Jenis Mosehe ini dilaksanakan jika terjadi konflik antara dua individu atau dua keluarga yang disertai dengan mombetudari (sumpah-menyumpah). Sumpah yang diucapkan dalam amarah ini dianggap “panas” dan harus didinginkan melalui ritual Mosehe.
6. Mosehe Mobeli: Peletakan Batu Pertama Bangunan
Sebelum mendirikan bangunan penting rumah adat, kantor, atau fasilitas umum masyarakat Tolaki melakukan Mosehe Mobeli saat peletakan batu pertama. Tujuannya agar bangunan tersebut terbebas dari hal-hal buruk dan memberikan berkah bagi penggunanya.
7. Mosehe Inemate’a: Pensucian dalam Upacara Kematian
Jenis Mosehe ini dilaksanakan jika seseorang yang meninggal dunia semasa hidupnya terlibat konflik atau mengucapkan sumpah buruk. Sebelum jenazah dimakamkan, ritual ini digelar untuk “mendinginkan” sumpah tersebut agar tidak membawa petaka bagi keluarga yang ditinggalkan.
Untuk pembahasan lebih mendalam tentang Mosehe inemate’a dalam konteks ritual kematian, silakan merujuk pada artikel terpisah BAWO SULTRA tentang “Mengupas Ritual Kematian Suku Tolaki-Mekongga dari Zaman Pra-Islam Hingga Kini”.
Fungsi Ganda Mosehe: Rekonsiliasi dan Pensucian
Para akademisi yang meneliti tradisi Mosehe, seperti Basrin Melamba dari Universitas Halu Oleo (narasumber dalam workshop Mosehe di Museum Sultra), mengidentifikasi bahwa ritual ini memiliki dua fungsi utama yang berjalan beriringan.
1. Fungsi Penyelesaian Konflik (Rekonsiliasi)
Mosehe adalah mekanisme untuk menyelesaikan konflik yang telah mencapai titik “sumpah-menyumpah” (pombetudari’a). Dalam fungsi ini, Mosehe tidak hanya mendamaikan pihak yang berselisih, tetapi juga memulihkan hubungan sosial yang retak akibat konflik tersebut.
Penelitian jurnal Universitas Pahlawan menegaskan bahwa Mosehe berfungsi sebagai penegak disiplin norma-norma masyarakat dan peningkatan perasaan solidaritas di antara warga.
2. Fungsi Pensucian (Pembersihan Spiritual)
Fungsi kedua Mosehe adalah membersihkan dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh perbuatan dosa atau sumpah buruk. Masyarakat Tolaki percaya bahwa perbuatan tercela meninggalkan “noda” spiritual yang dapat mendatangkan musibah.
Dalam Mosehe Wonua di Routa, misalnya, penyembelihan kerbau diyakini sebagai penebusan dosa kolektif dan tolak bala bagi seluruh wilayah.
Perbedaan Mosehe dan Kalo Sara
Bagi pembaca yang telah mengikuti serial artikel BAWO SULTRA tentang Kalo Sara (“Hukum Tertinggi” Suku Tolaki), mungkin bertanya: Apa bedanya Mosehe dengan Kalo Sara?
| Aspek | Kalo Sara | Mosehe |
|---|---|---|
| Fungsi Utama | Simbol hukum adat, alat rekonsiliasi | Ritual pensucian + penyelesaian konflik |
| Bentuk | Lingkaran rotan tiga lilitan | Prosesi dengan korban (telur, ayam, kerbau) |
| Output | Perdamaian/kesepakatan kedua pihak | “Pendinginan” sumpah + pemulihan spiritual |
| Fase | Pertemuan/mediasi | Puncak penyelesaian setelah mediasi |
Singkatnya: Kalo Sara adalah simbol dan alat rekonsiliasi, sedangkan Mosehe adalah ritual puncak yang “menyegel” perdamaian dengan korban. Dalam praktiknya, keduanya sering digunakan secara berurutan: konflik dipertemukan dengan Kalo Sara, lalu diselesaikan dengan Mosehe.
Mosehe Kindoro: Ketika Adat Menyentuh Dunia Digital
Di era modern ini, Mosehe terbukti adaptif dan tetap relevan bahkan untuk menyelesaikan konflik yang lahir dari media sosial.
Pada Mei 2025, Lembaga Adat Tolaki (LAT) Kabupaten Kolaka Utara menggelar Mosehe Kindoro ritual untuk mengampuni seseorang yang telah melakukan penghinaan terhadap Suku Tolaki.
Kasusnya: seorang warga bernama Fitri menulis kata “Tolaki Assu” (sebuah penghinaan) di percakapan WhatsApp. Pesan itu menyebar luas dan memicu kemarahan komunitas Tolaki di Kolaka Utara.
Alih-alih main hakim sendiri, para tetua adat memilih jalur adat. Pelaku didatangi, diberikan pemahaman, dan sepakat untuk menyelesaikan masalah melalui Mosehe Kindoro di Rumah Adat Patowonua, Desa Pitulua.
Persyaratan yang disiapkan pelaku: Kaci satu pis, satu cerek, dan seekor sapi sebagai hewan kurban. Dengan dilaksanakannya ritual ini, Suku Tolaki memaafkan pelaku dan menganggap masalah selesai.
Kasus ini menunjukkan bahwa Mosehe bukanlah ritual kuno yang kaku, melainkan mekanisme hidup yang mampu merespons dinamika zaman dari perselisihan antar saudara di hutan hingga penghinaan di media sosial.
Tuturan Tolea dalam Ritual Mosehe: Simbol yang Disepakati
Dalam pelaksanaan ritual Mosehe, terutama Mosehe Wonua, peran Tolea (juru bicara adat) sangat sentral. Tuturan yang diucapkan Tolea terbagi dalam tiga bagian: tuturan pembuka, tuturan inti, dan tuturan penutup.
Tuturan Pembuka
Pada bagian pembuka, Tolea menyampaikan penghormatan kepada raja, dewan adat, bupati, dan wakil bupati dengan bahasa yang halus. Tuturan ini merupakan simbol penghormatan dalam ritual tersebut sebuah konvensi atau kesepakatan bersama yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat.
Tuturan Inti
Tuturan inti berisi tentang aturan atau petunjuk adat yang bertujuan agar masyarakat mematuhi atau menghormati adat Mosehe Wonua. Pada bagian inilah doa-doa dan permohonan perlindungan dari bencana alam dipanjatkan.
Tuturan Penutup
Pada tuturan penutup, Tolea mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang hadir dalam tradisi Mosehe Wonua. Tuturan penutup ini merupakan simbol penghargaan sekaligus bentuk pemujaan terhadap leluhur yang menciptakan dan menghadirkan tradisi yang masih hidup hingga kini.
Semua tuturan yang diungkapkan Tolea baik pembuka, inti, maupun penutup dianggap sakral dari segi histori dan ideologi masyarakat setempat. Masyarakat Tolaki di Mekongga menjadikan tuturan tersebut sebagai sebuah pegangan atau pedoman dalam menjalankan tradisi Mosehe.
Kontroversi dan Dialog dengan Islam
Seperti halnya banyak tradisi pra-Islam di Nusantara, Mosehe juga menuai polemik di kalangan tokoh agama. Sebagian menganggap ritual ini terutama penggunaan mantra dan keyakinan akan “roh” tertentu bertentangan dengan nilai-nilai tauhid.
Namun, para tokoh adat dan bahkan pemerintah daerah menegaskan bahwa Mosehe tidak bertentangan dengan Islam selama esensinya adalah perdamaian dan pensucian diri.
Pada tahun 2020, isu ini sempat memanas di Kolaka. Seorang ustad setempat menyebut Mosehe sebagai perbuatan musyrik yang harus dihentikan. Ribuan masyarakat Tolaki-Mekongga pun menggelar aksi damai. Bupati Kolaka saat itu, Ahmad Safei, turun langsung menjelaskan bahwa Mosehe tidak bertentangan dengan Islam sebuah pernyataan yang juga ditegaskan oleh Ketua MUI Kabupaten Kolaka.
Praktik Mosehe di era modern pun mulai menunjukkan akulturasi yang sehat. Dalam Mosehe Wonua di Routa tahun 2026, seluruh prosesi diisi dengan doa bersama yang khusyuk tanpa mantra-mantra kuno yang kontroversial . Ini adalah bukti bahwa tradisi bisa bertahan tanpa kehilangan esensi, sekaligus menghormati keyakinan agama yang dianut mayoritas masyarakat.
Kesimpulan: Mosehe, Warisan Leluhur yang Tak Lekang Waktu
Dari lima jenis korban hingga tujuh tujuan pelaksanaan; dari penyelesaian sumpah leluhur di masa lampau hingga penghinaan di WhatsApp di era digital Mosehe adalah cerminan kearifan lokal yang luar biasa.
Ia mengajarkan bahwa:
- Setiap perbuatan memiliki konsekuensi spiritual — tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya
- Konflik harus diselesaikan sampai ke akarnya — bukan sekadar “damai di mulut”
- Memaafkan adalah proses — yang membutuhkan ritual, pengorbanan, dan pengakuan dari kedua belah pihak
- Tradisi dan agama bisa berjalan beriringan — dengan dialog, saling pengertian, dan adaptasi yang bijak
Bagi masyarakat Tolaki-Mekongga, Mosehe bukan sekadar peninggalan masa lalu yang diawetkan di museum. Ia adalah hukum yang hidup (living law) sebuah mekanisme yang masih relevan, masih dipraktikkan, dan masih menjadi rujukan ketika konflik tak lagi bisa didamaikan dengan kata-kata biasa.
Seperti kata seorang tokoh adat Tolaki: “Mosehe adalah jalan terakhir ketika Kalo Sara telah bicara, tapi hati masih panas. Dengan Mosehe, semuanya menjadi dingin kembali.”
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber akademis dan media, termasuk jurnal penelitian Universitas Pahlawan (Edy Basri & Asdiana, 2022), jurnal Universitas Hasanuddin (Jurnal Ilmu Budaya, 2018), laporan ANTARA News Sultra (2018, 2026), Garuda Kemdikbud, serta laporan media terpercaya lainnya. Informasi mengenai jenis-jenis Mosehe, fungsi gandanya, serta praktik kontemporer (termasuk Mosehe Kindoro 2025 dan Mosehe Wonua Routa 2026) merupakan kompilasi dari sumber-sumber tersebut. Polemik mengenai kesesuaian Mosehe dengan ajaran Islam merupakan isu yang masih diperdebatkan di kalangan tokoh agama dan adat; artikel ini menyajikan informasi secara berimbang berdasarkan sumber yang tersedia. Untuk penelitian lebih lanjut, silakan merujuk pada sumber-sumber primer yang telah kami cantumkan.

Saat ini belum ada komentar