Mengupas Ritual Mohau Iwoi: Tradisi Pengambilan Air Suci di Makam Sangia NiBandera
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di balik misteri guci pusaka Dinasti Ming di Kompleks Makam Sangia NiBandera, Wundulako, tersimpan sebuah ritual sakral yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat adat Mekongga. Ritual tersebut bernama Mohau Iwoi prosesi pengambilan air suci dari guci pusaka yang dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi.
Berbeda dengan mitos yang beredar luas di masyarakat tentang keistimewaan guci itu sendiri, ritual Mohau Iwoi memiliki tata cara, filosofi, dan aturan adat yang tidak bisa dilakukan sembarangan.
Bukan Sekadar Mengambil Air
Berdasarkan informasi yang dihimpun BAWO SULTRA dari berbagai sumber, ritual Mohau Iwoi tidak bisa dilakukan oleh siapa pun dan kapan pun. Prosesi ini memiliki persyaratan adat yang ketat, terutama dalam hal “perlengkapan” yang digunakan.
Salah satu keunikan yang paling mencolok adalah penggunaan daun bambang sebanyak tujuh lembar sebagai wadah atau alat untuk mengambil air dari dalam guci. Daun bambang jenis daun yang hanya ditemukan di wilayah tertentu diyakini memiliki nilai sakral dan berfungsi sebagai “media penyuci” sebelum air menyentuh tangan atau tubuh pengambil.
“Untuk mengambil air guci itu harus pakai daun bambang tujuh lembar. Tidak boleh pakai tangan langsung atau alat lain,” demikian dikutip dari keterangan tokoh masyarakat setempat, Firman Guro, yang pernah diwawancarai media tentang ritual ini .
Filosofi angka tujuh sendiri dalam budaya Tolaki-Mekongga seperti halnya banyak tradisi Nusantara melambangkan kesempurnaan dan keberkahan. Tujuh lembar daun bambang dipercaya mampu “menyaring” energi spiritual dari air guci sebelum digunakan.
Kapan Ritual Dilakukan?
Ritual Mohau Iwoi tidak memiliki jadwal tetap. Berdasarkan catatan dan laporan warga setempat, prosesi pengambilan air suci ini biasanya dilaksanakan pada momen-momen tertentu yang dianggap sakral atau penting, di antaranya:
- Menjelang ritual Mosehe Wonua (pensucian negeri) ritual tahunan masyarakat adat Tolaki-Mekongga yang bertujuan membersihkan wilayah dari bala dan malapetaka .
- Saat menerima tamu kehormatan atau pejabat yang melakukan napak tilas sejarah ke kompleks makam.
- Permintaan khusus dari masyarakat yang membutuhkan air suci untuk keperluan spiritual tertentu, seperti pengobatan tradisional atau tolak bala.
- Peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kolaka di mana pejabat daerah rutin melakukan ziarah ke makam Sangia NiBandera .
Air Suci untuk Apa?
Air yang diambil dari guci pusaka melalui ritual Mohau Iwoi tidak dikonsumsi sembarangan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Mekongga, air tersebut memiliki khasiat spiritual antara lain:
- Pengobatan berbagai penyakit baik fisik maupun non-fisik. Masyarakat meyakini air guci dapat menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan secara medis .
- Media pensucian diri sebelum mengikuti ritual adat besar.
- Tolak bala bagi individu maupun keluarga.
- Media pemberkatan untuk acara-acara tertentu.
Namun demikian, hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang menguji klaim khasiat tersebut. Air suci ini lebih berfungsi sebagai simbol spiritual dan kearifan lokal yang dihormati oleh masyarakat adat.
Keterkaitan dengan Ritual Mosehe Wonua
Ritual Mohau Iwoi tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian ritual yang lebih besar bernama Mosehe Wonua (atau Moseha Wonua) ritual pensucian negeri yang telah dilaksanakan jauh sebelum struktur Kerajaan Mekongga terbentuk.
Dalam pelaksanaan Mosehe Wonua, air suci dari guci pusaka Sangia NiBandera sering digunakan sebagai salah satu elemen penting. Ritual ini melibatkan pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama, serta biasanya ditandai dengan pemotongan kerbau putih sebagai simbol ketulusan dan penyucian dosa-dosa masyarakat Tolaki-Mekongga .
Antara Tradisi dan Nilai Spiritual
Bagi masyarakat Tolaki-Mekongga, ritual Mohau Iwoi bukanlah sekadar tradisi turun-temurun yang kosong makna. Ada nilai filosofis dan spiritual yang dijunjung tinggi:
- Penghormatan kepada leluhur—Sangia NiBandera sebagai raja pertama yang memeluk Islam di Mekongga.
- Pengingat akan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
- Simbol persatuan masyarakat—ritual ini menjadi momen berkumpulnya berbagai elemen masyarakat dalam semangat gotong royong dan kebersamaan .
Catatan Kritis dari Perspektif Akademisi
Dalam kajian akademis yang dilakukan oleh peneliti dari UIN Alauddin Makassar, tradisi seperti Mohau Iwoi dan Mosehe Wonua memang memiliki nilai positif sebagai perekat sosial dan pelestarian budaya. Namun, terdapat pula catatan kritis terkait aspek-aspek yang tidak sejalan dengan syariat Islam, seperti penggunaan mantra atau permohonan izin kepada roh/arwah.
Para tokoh agama setempat pun terus melakukan pendekatan kultural agar tradisi ini tetap dilestarikan namun disesuaikan dengan nilai-nilai ketauhidan tanpa menghilangkan esensi budaya yang menjadi identitas masyarakat Tolaki di Mekongga.
Daya Tarik Wisata Spiritual
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kompleks Makam Sangia NiBandera, ritual Mohau Iwoi menjadi salah satu daya tarik budaya yang unik. Meski tidak semua pengunjung bisa menyaksikan ritual ini secara langsung (karena hanya digelar pada momen tertentu), cerita tentang prosesi pengambilan air suci dengan daun bambang tujuh lembar selalu berhasil memikat rasa ingin tahu.
Pemerintah Kabupaten Kolaka bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Tenggara pun mulai memasukan ritual ini sebagai aset wisata budaya yang perlu didokumentasikan dan dilestarikan. *(Oz)
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan informasi publik yang tersedia, termasuk wawancara tokoh adat setempat yang dipublikasikan oleh media terpercaya, serta kajian akademis tentang ritual adat di wilayah Kolaka, Sulawesi Tenggara. Tim BAWO SULTRA menyadari bahwa referensi spesifik tentang ritual “Mohau Iwoi” masih sangat terbatas di ruang publik. Oleh karena itu, artikel ini bersifat sebagai upaya awal dokumentasi jurnalistik yang menggabungkan informasi dari berbagai sumber terverifikasi. Pembaca yang memiliki pengetahuan lebih mendalam tentang ritual ini termasuk tokoh adat, budayawan, atau peneliti, sangat kami harapkan kontribusinya untuk melengkapi dan mengoreksi informasi yang disajikan. Kami tidak bertanggung jawab atas perbedaan interpretasi atau versi cerita lisan (oral tradition) yang berkembang di masyarakat. Untuk penelitian akademik lebih lanjut, silakan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan atau instansi terkait di Kabupaten Kolaka.

Saat ini belum ada komentar