Misteri Guci Kuno di Situs Makam Sangia NiBandera Kolaka
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di sudut sakral Kompleks Situs Makam Sangia NiBandera, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, tersimpan sebuah artefak purba yang hingga kini masih menjadi perbincangan. Sebuah guci kuno, konon berasal dari masa Dinasti Ming (1368–1648 M), terletak ditempat aman menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan secara ilmiah.
Keberadaan guci tersebut bukan sekadar pajangan biasa. Bagi masyarakat adat Mekongga, guci ini adalah pusaka leluhur yang dipercaya memiliki keistimewaan supranatural. Keyakinan yang paling santer terdengar di kalangan warga sekitar dan peziarah adalah air di dalam guci tidak pernah kering saat musim kemarau, tetapi juga tidak pernah meluap ketika musim penghujan tiba.
“Fakta tersebut telah menjadi cerita turun-temurun dari nenek moyang kami. Sampai sekarang, banyak orang percaya bahwa guci ini ‘menjaga’ keseimbangan alam di tanah Mekongga,” ujar Olank Zakaria tokoh pemuda adat, saat ditemui di lokasi makam, Selasa (20/5/2026).
Dari Tiongkok ke Kolaka: Jejak Perdagangan Nusantara Kuno
Jika merujuk pada perkiraan usia artefak, guci dari era Dinasti Ming ini telah berusia lebih dari 400 hingga 600 tahun. Para budayawan lokal meyakini, keberadaan guci tersebut bukanlah kebetulan, melainkan bukti nyata bahwa Kerajaan Mekongga pada masa lampau memiliki relasi perdagangan dan interaksi budaya dengan bangsa asing, jauh sebelum kolonialisme Eropa masuk secara masif.
Budayawan Kolaka, yang kerap meneliti situs-situs sejarah di wilayah Mekongga, menilai bahwa benda-benda peninggalan seperti guci Dinasti Ming menunjukkan status Kerajaan Mekongga yang tidak tertutup pada masanya. “Ini indikasi bahwa Mekongga dulu adalah wilayah yang disegani. Ada hubungan dagang dengan Tiongkok, mengingat Kerajaan Mekongga berada pada jalur laut perniagaan,” jelasnya.
Fakta ini selaras dengan sejarah bahwa Kesultanan Luwu, yang memiliki hubungan erat dengan Sangia NiBandera (Raja Mekongga VIII), merupakan salah satu pintu masuk perdagangan rempah dan benda-benda mewah dari mancanegara.
Antara Mitos dan Daya Tarik Wisata
Hingga kini, belum ada penelitian ilmiah berskala besar yang menguji klaim tentang “air yang tidak kering dan tidak meluap” dari guci pusaka tersebut. Namun, misteri itulah yang justru menjelma menjadi magnet utama.
Kompleks makam Sangia NiBandera kian ramai dikunjungi, tidak hanya oleh peziarah yang ingin menghormati leluhur, tetapi juga oleh wisatawan sejarah dan pemburu konten misteri. Suasana sakral yang diperkuat oleh pepohonan tua dan aliran sungai kecil di sekitar kompleks menambah nuansa mistis yang kental.
“Kami sering datang ke sini untuk dokumentasi budaya. Guci ini unik karena bentuknya masih sangat terawat. Kalau soal air tidak habis, kami belum berani buktikan sendiri, tapi cerita lisan masyarakat sangat kuat di sini,” ujar seorang pengunjung asal Kendari yang berprofesi sebagai pegiat sejarah.
Simbol Identitas yang Harus Dijaga
Pemerintah daerah bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Tenggara pun mulai melirik kawasan ini sebagai aset wisata sejarah prioritas. Guci Dinasti Ming serta kompleks makam secara keseluruhan kini masuk dalam kawasan cagar budaya yang dilindungi.
Masyarakat adat berharap, keberadaan guci ini tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga dijaga kelestariannya. “Jangan sampai ada yang mengambil atau merusak. Ini bukan sekadar benda mati, ini identitas kami sebagai orang Mekongga,” pungkas tokoh adat setempat. *(Oz)
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan informasi publik, laporan warga, wawancara tokoh adat dan budayawan setempat, serta sumber berita daring terpercaya. Klaim mengenai “air tidak pernah kering dan tidak pernah meluap” merupakan bagian dari ungkapan yang terjadi (oral tradition) masyarakat Mekongga pada masa silam. Pembaca disarankan untuk menyikapi secara bijak dan menghormati nilai-nilai budaya serta kepercayaan lokal. Untuk penelitian akademik lebih lanjut, silakan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan atau instansi terkait di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Saat ini belum ada komentar