Mengenal Sangia NiBandera, Raja Islam Pertama Tolaki-Mekongga
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di balik rimbunnya pepohonan tua di Desa Tikonu, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tersimpan sejarah besar tentang peradaban dan penyebaran Islam di tanah Mekongga. Sosok Sangia NiBandera, atau yang akrab dikenal dengan gelar Bokeo Ladumaa, hingga saat ini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai raja agung sekaligus pelopor syiar Islam.
Menyandang status sebagai Raja Mekongga VIII, masa pemerintahannya yang berlangsung sekitar tahun 1699 hingga 1748 M menandai babak baru bagi sejarah lokal. Meskipun terdapat variasi dalam penanggalan sejarah, para sejarawan sepakat bahwa masa kepemimpinannya adalah titik balik penting dalam perjalanan Kerajaan Mekongga.
Tiga Nama dalam Satu Jiwa: Dari Kino Kori Hingga Sangia NiBandera
Tidak banyak tokoh sejarah yang memiliki metamorfosis nama sekaya Sangia NiBandera. Dikutip dari keterangan tokoh adat setempat, bayi yang lahir di lingkungan kerajaan ini pertama kali diberi nama Kino Kori, yang dalam bahasa setempat berarti “yang digendong”. Memasuki masa remaja, namanya berganti menjadi Lelemala, hingga akhirnya bergelar Bokeo Ladumaa setelah dinobatkan sebagai raja.
Gelar kebesaran Sangia NiBandera sendiri baru disandangnya setelah menunjukkan kiprahnya membantu Kerajaan Luwu dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa. Atas jasa besarnya tersebut, ia diberikan Bendera Pusaka Merah Putih yang kemudian menjadi gelar NiBandera yang artinya “Diberi Bendera”, gelar tersebut sebagai penanda penghormatan tertinggi.
Perdana Memeluk Islam dan Ritual Spiritual
Salah satu warisan terbesar Sangia NiBandera adalah keputusannya memeluk agama Islam, menjadikannya raja pertama di Kerajaan Mekongga yang mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Keputusan spiritual ini tidak hanya mengubah keyakinan pribadi, tetapi juga secara perlahan mentransformasi tatanan sosial dan hukum masyarakat Mekongga saat itu.
Dari keyakinan barunya itu, lahirlah berbagai tradisi sakral yang masih lestari hingga abad ke-21. Salah satunya adalah ritual “Mohau Iwoi” atau pengambilan air suci, yang konon berkaitan erat dengan sebuah guci pusaka yang menyimpan misteri tersendiri. (Baca selengkapnya dalam artikel Misteri Guci Kuno di Situs Makam Sangia NiBandera Kolaka).
Kompleks Makam: Antara Spiritualitas dan Konservasi Sejarah
Mengunjungi Kompleks Makam Sangia NiBandera di Wundulako bukan sekadar perjalanan religi, tetapi juga napak tilas arsitektur dan budaya masa lalu. Di lokasi tersebut, pengunjung disambut oleh bangunan Masjid kuno dan pendopo adat yang biasa digunakan untuk ritual Mosehe (ritual tolak bala dan pensucian negeri).
Di area inti pemakaman, terdapat makam bercungkup besar yang dikelilingi oleh tiga makam pendamping yang lebih kecil. Berdasarkan informasi dari para peziarah dan penjaga makam, ketiga makam tersebut adalah pusara istri-istri Sangia NiBandera, yakni Wekasili, Wa Sembu, dan Na Tuu.
Pemerintah Kabupaten Kolaka bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sulawesi Tenggara telah menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Budaya Nasional. Hal ini dibuktikan dengan rutinnya pejabat daerah melakukan ziarah nasional setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kolaka di lokasi tersebut. *(Oz)
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan berbagai sumber informasi publik, berita daring, serta penelitian budaya dan sejarah yang tersedia untuk umum, termasuk wawancara tokoh adat yang dipublikasikan oleh media terpercaya. Mengingat sebagian besar sejarah Kerajaan Mekongga dilestarikan melalui tradisi lisan (oral tradition), mungkin terdapat perbedaan interpretasi atau kronologi tanggal tergantung pada sumber rujukan yang digunakan. Kami tidak bertanggung jawab atas perbedaan pendapat di kalangan akademisi atau sejarawan mengenai detail spesifik kronologi kerajaan.

Saat ini belum ada komentar