Breaking News
light_mode
Top Tags

Wisata Sejarah Kolaka: Jejak Sangia NiBandera dan Istana Komali

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Kabupaten Kolaka di Provinsi Sulawesi Tenggara menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang menjadi identitas penting masyarakat Mekongga. Di tengah arus modernisasi dan pesatnya pembangunan daerah, jejak peradaban masa lampau masih berdiri kokoh melalui berbagai situs budaya yang hingga kini tetap dijaga serta dihormati masyarakat setempat.

Salah satu destinasi wisata budaya yang paling dikenal di Kolaka adalah Situs Makam Sangia NiBandera dan Istana Komali atau masyarakat lokal menyebutnya Rumah Adat. Kedua lokasi ini bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan simbol perjalanan sejarah, spiritualitas, serta warisan adat masyarakat Mekongga yang memiliki nilai penting bagi generasi masa kini maupun masa mendatang.

Situs Makam Sangia NiBandera terletak di Kecamatan Wundulako, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Kolaka. Tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut dikenal dalam sejarah lokal sebagai Raja Mekongga pertama yang memeluk agama Islam. Dalam sejumlah sumber sejarah masyarakat Mekongga, Sangia NiBandera juga dikenal dengan nama Bokeo Ladumaa, yakni Bokeo (Raja) Mekongga VIII yang memerintah sekitar tahun 1699 hingga 1748.

Tokoh ini diyakini memiliki hubungan erat dengan kerajaan Konawe dan Luwu serta memainkan peranan penting dalam proses penyebaran Islam di wilayah Mekongga pada masa lampau. Keberadaan situs makam tersebut kini menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Kolaka terhadap sejarah kerajaan, perkembangan budaya lokal, serta perjalanan spiritual masyarakat Mekongga.

Kawasan makam menghadirkan suasana yang tenang dan sakral. Pepohonan tua yang tumbuh di sekitar area kompleks memberikan kesejukan alami, sementara aliran sungai kecil di sekitar lokasi menambah nuansa spiritual bagi para pengunjung yang datang untuk berziarah maupun mempelajari sejarah daerah.

Di dalam kawasan makam juga terdapat guci kuno yang dipercaya berasal dari masa Dinasti Ming sekitar tahun 1368–1644 Masehi. Benda peninggalan tersebut menjadi salah satu daya tarik sejarah yang sering menarik perhatian wisatawan, peneliti budaya, hingga pegiat sejarah lokal. Masyarakat setempat meyakini guci tersebut memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi. Salah satu keunikan yang dipercaya masyarakat adalah air di dalam guci tidak pernah kering saat musim kemarau dan tidak pernah meluap ketika musim penghujan.

Tak jauh dari situs makam, tepat di pesisir Teluk Mekongga, wisatawan juga dapat mengunjungi Istana Komali yang dikenal sebagai istana Raja Mekongga. Bangunan tradisional tersebut menampilkan arsitektur khas Tolaki-Mekongga dengan berbagai filosofi adat yang mencerminkan kehormatan, tata sosial, persatuan, serta nilai kebersamaan masyarakat lokal.

Istana Komali hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan budaya, seperti penyambutan tamu kehormatan, pelaksanaan upacara tradisional, musyawarah adat, hingga festival budaya daerah. Keberadaan replika Istana Raja Komali atau masyarakat lebih mengenalnya rumah adat tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Kolaka masih menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman dan modernisasi.

Wisata budaya di Kolaka bukan hanya menawarkan panorama sejarah, tetapi juga pengalaman memahami identitas masyarakat Mekongga yang kaya akan nilai adat, spiritualitas, dan kearifan lokal. Bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara, destinasi ini menghadirkan pengalaman autentik mengenai budaya asli Indonesia yang belum banyak tersentuh wisata massal.

Potensi wisata sejarah dan budaya Kolaka juga semakin terbuka dengan hadirnya akses transportasi melalui Bandara Sangia NiBandera di Kecamatan Tanggetada yang memudahkan mobilitas wisatawan menuju wilayah tersebut. Perjalanan dari Bandara Sangia Ni Bandera menuju Kota Kolaka dapat ditempuh melalui jalur darat menggunakan kendaraan dengan waktu sekitar 35 hingga 50 menit perjalanan.

Dengan kekayaan sejarah, adat, dan budaya yang dimiliki, Situs Makam Sangia NiBandera dan Rumah Adat Komali menjadi aset penting yang berpotensi berkembang sebagai destinasi wisata unggulan Sulawesi Tenggara di tingkat nasional maupun internasional.

Situs ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai sejarah Kerajaan Mekongga, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan budaya yang kaya di wilayah tersebut. Keberadaan makam Sangia NiBandera dan Rumah Adat Komali menggambarkan keagungan masa lalu serta kontribusi penting dalam pembentukan identitas masyarakat Kolaka. Dengan pengembangan yang tepat, kawasan ini memiliki potensi besar untuk menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, sekaligus meningkatkan kesadaran akan warisan budaya yang ada. Upaya pelestarian dan promosi situs-situs bersejarah ini sangat penting untuk menjaga kelestarian budaya dan sejarah daerah. *(Oz)

Disklaimer:
Artikel ini disusun berdasarkan informasi sejarah lokal, sumber masyarakat adat, referensi budaya, dan data pendukung yang tersedia saat publikasi. Perbedaan versi sejarah, penafsiran adat, maupun penyebutan tokoh dalam tradisi lisan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan warisan budaya lokal yang tetap dihormati. BAWOSULTRA.com berkomitmen menyajikan informasi secara bijak, edukatif, dan menghormati nilai budaya masyarakat Sulawesi Tenggara.

Penulis

bawosultra.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Sangia NiBandera, Raja Islam Pertama Tolaki-Mekongga

    Mengenal Sangia NiBandera, Raja Islam Pertama Tolaki-Mekongga

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 15
    • 0Komentar

    KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di balik rimbunnya pepohonan tua di Desa Tikonu, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tersimpan sejarah besar tentang peradaban dan penyebaran Islam di tanah Mekongga. Sosok Sangia NiBandera, atau yang akrab dikenal dengan gelar Bokeo Ladumaa, hingga saat ini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai raja agung sekaligus pelopor syiar Islam. Menyandang status […]

  • Kalo Sara: Simbol Norma Adat, “Hukum Tertinggi” Suku Tolaki

    Kalo Sara: Simbol Norma Adat, “Hukum Tertinggi” Suku Tolaki

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 8
    • 0Komentar

    KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di tengah tegaknya gedung-gedung pengadilan negeri dan hiruk-pikuk hukum positif modern, masyarakat Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara masih memegang teguh sebuah “kitab hukum” yang tidak terbuat dari kertas, melainkan dari norma adat yang sisebut Sara, tidak tercatat tetapi tertanam dalam ingatan kolektif yang dilestarikan secara turun-temurun sejak ratusan tahun, tertuang dalam simbol sakral lilitan […]

  • Struktur Pemerintahan dan Gelar Adat Tolaki-Mekongga: Dari Anggalo ke Bokeo

    Struktur Pemerintahan dan Gelar Adat Tolaki-Mekongga: Dari Anggalo ke Bokeo

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 13
    • 0Komentar

    KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Sebuah kerajaan tidak akan kokoh tanpa sistem pemerintahan yang terstruktur. Demikian pula dengan Kerajaan Mekongga, yang sejak berdiri pada abad ke-12 telah mengembangkan tatanan birokrasi adat yang kompleks dari tingkat rumah tangga terkecil hingga istana raja. BAWO SULTRA dalam artkel ini tidak mencantumkan istilah “Pabitara” dalam hirarki jabatan pemerintahan Kerajaan Mekongga dan lebih menekankan […]

  • Mengupas Ritual Kematian Suku Tolaki-Mekongga dari Zaman Pra-Islam Hingga Kini

    Mengupas Ritual Kematian Suku Tolaki-Mekongga dari Zaman Pra-Islam Hingga Kini

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 10
    • 0Komentar

    KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Kematian adalah satu kepastian yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Bagi Suku Tolaki-Mekongga di Sulawesi Tenggara, kematian bukan sekadar peristiwa hilangnya nyawa, tetapi momentum sakral yang sarat dengan ritual, filosofi, dan penghormatan kepada leluhur. Dari zaman pra-Islam yang menggunakan peti mati kuno bernama Soronga (dialek Konawe) atau Duni (dialek Mekongga) yang diletakkan di dalam gua-gua tinggi, hingga era […]

  • Komali, Istana Raja Mekongga: Arsitektur Tolaki yang Jadi Simbol Identitas Masyarakat Tolaki-Mekongga

    Komali, Istana Raja Mekongga: Arsitektur Tolaki yang Jadi Simbol Identitas Masyarakat Tolaki-Mekongga

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 14
    • 0Komentar

    KOLAKA | BAWOSULTRA.COM — Di pesisir Teluk Mekongga yang tenang, sebuah bangunan tradisional berdiri dengan anggunnya. Namanya Rumah Adat Komali istana kebanggaan Kerajaan Mekongga yang tak hanya menjadi cagar budaya, tetapi juga pusat denyut nadi adat masyarakat Kolaka hingga saat ini. Berbeda dengan banyak istana kerajaan di Nusantara yang hanya berfungsi sebagai museum atau situs sejarah, Komali masih “hidup”. Bangunan […]

  • Sistem Perkawinan Adat Tolaki-Mekongga: Dari Merapu hingga Mowindahako

    Sistem Perkawinan Adat Tolaki-Mekongga: Dari Merapu hingga Mowindahako

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 6
    • 0Komentar

    KOLAKA, BAWOSULTRA.COM — Dalam adat istiadat Suku Tolaki-Mekongga, perkawinan bukan sekadar mengikat dua insan dalam ikatan lahir dan batin. Lebih dari itu, perkawinan adalah momen sakral yang menyatukan dua keluarga besar, mempererat tali kekerabatan, dan menjaga martabat sosial di tengah masyarakat. Meluruskan Makna “Merapu” (Catatan Penting) Beberapa literatur selama ini menyebut perkawinan adat Tolaki dengan istilah Merapu atau Perapu’a yang diklaim […]

expand_less